You are here
Home > Berita > AJI Mataram Gelar Aksi Teaterikal

AJI Mataram Gelar Aksi Teaterikal

MATARAM-Koalisi Wartawan (Kawan) Mataram yang terdiri dari beberapa organisasi jurnalis seperti  Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Mataram melibatkan Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI), dan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) menggelar aksi damai untuk memperingati hari kebebasan pers seluruh dunia yang diperingati Tanggal 3 Mei.

Dalam aksi tersebut, puluhan masa wartawan yang menamakan diri Koalisi Wartawan (Kawan) Mataram melakukan jalan kaki sambil membentangkan spanduk berbahan koran di Jalan Airlangga. Berakhir di titik kumpul simpang empat Bank Indonesia, dilanjutkan dengan aksi teaterikal dari seniman muda Mataram, Komunitas Akar Pohon dengan repertoar “Suara Keadilan Pasti Menang”. Tetrikal yang diperankan dua jurnalis, menggambarkan bagiamana peran jurnalis menjalankan tugasnya mengungkap kebenaran. Tapi konsekwensi dari tugasnya itu, sang penguasa keberatan dan menghakiminya, wujud premanisme masih subur di negeri ini.

Sejumlah peserta aksi yang menggunakan kaos “wartawan Udin” menutup mulut dengan lak ban sebagai simbol pembungkaman terhadap kebebasan pers.

Koordinator Aksi Kawan Mataram Haris Mahtul mengatakan, peristiwa terbunuhnya wartawan Fuad Muhammad Syafrudin alias Udin, 35 tahun menjadi contoh paling jelas bagaimana wartawan diamputasi perannya. Udin, wartawan Harian Bernas, yang dikenal kritis dengan artikel dan beritanya di  era Orde Baru, pada Selasa malam 13 Agustus 1996 dibantai orang tak dikenal hingga koma, dan Udin meninggal 16 Agustus 1996. Kematian Udin menyisakan tanda tanya dan ironi berkepanjangan, bagaimana Polda DIY hingga Mabes Polri belum menjadikan tragedi Udin ini masuk skala prioritas. Bahkan pada 16 Agustus nanti genap 18 tahun tragedi terbunuhnya Udin. Di saat yang bersamaan, kasus Udin akan dinyatakan kadaluarsa sehingga gugurlah tanggungjawab aparat untuk mengusut kembali.

Menurutnya, kematian Udin tak sekedar nama, namun telah menjadi sumber semangat bagi perjuangan para jurnalis dalam membongkar setiap ketidakadilan. ”Udin adalah sebuah sikap melawan lingkar kekuasaan yang korup di negeri ini, termasuk di NTB,” katanya.

Melalui momentum hari pers yang ditetapkan melalui sidang umum PBB tahun 1993. Harus menjadi titik refleksi bagi para jurnalis dalam memaknai arti penting kebebasan pers. Tidak hanya sekedar dijadikan sebagai aktivitas rutin semata. Namun harus menjadi pemacu semangat para jurnalis untuk terus menyuarakan kebenaran, memperjuangkan hak kaum tertindas, dan memperjuangkan kebebesan pers yang hakiki.

Beberapa tuntutan Kawan Mataram diantaranya menolak penghentian kasus Udin karena alasan kadaluarsa, Polisi harus menangkap pelaku utama pembunuh Udin, Menyerukan seluruh jurnalis NTB untuk bersatu melawan segala bentuk premanisme dan intimidasi terkait pemberitaan. (*)

Similar Articles

Tinggalkan Balasan

Top